DIAM

BUKAN

PILIHAN

Rambutku Dijambak Kepalaku Dipukul, Apa Aku Harus Diam?

Hari berganti hari tak terasa kembali libur, seperti biasa di pagi yang cerah duduk dibalkon depan rumah memang terasa nikmatnya, ditemani segelas kopi panas dan tentu tidak jauh-jauh dari  smartphone sebagai pengganti bacaan koran.

Informasi berita semakin hari semakin mudah kita jumpai, bermodalkan smartphone semua informasi dapat kita terima secara cepat dan akurat.

Sekarang ini tidak hanya situs berita atau portal website informasi yang menyajikan issu-issu kejahatan atau tindakan kriminal saja, nampaknya media sosial yang biasa sering kita gunakan untuk update status juga menyajikannya.   

Sebagai seorang yang senang berinteraksi lewat sosial media tentu banyak sekali hal yang saya dapatkan informasinya lewat beberapa akun penggiat berita, salah satunya yaitu akun Lambe Turah.

Tidak terlepas dari berita ter-update selebriti di tanah air, Lambe Turah juga mengungkap beberapa kasus dan tindak kriminal yang lagi marak-maraknya terekspos di media sosial.

Termasuk beberapa bulan lalu tepatnya tanggal 16 juli 2017, akun Lambe Turah mengunggah video kasus bullying paling kontroversial di Indonesia. Kejadian ini dilakukan oleh anak-anak dibawah umur yang masih sekolah.

Oke, kali ini kita tidak membahas tentang akun @lambeturah, tapi saya akan menitik beratkan kepada peristiwa yang terjadi pada video disamping ini.

Jujur saja saya sangat miris dan menangis hati saya setelah melihat tayangan tersebut. Saya sangat kecewa atas kelakuan beberapa siswa yang tidak memiliki akhlak terpuji itu.

Saya membayangkan jika diri saya berada pada kondisi dan situasi seperti itu, entah apa yang seharusnya saya lakukan. Kekerasan ini memang sudah keterlaluan dan mencerminkan bukan etika seorang yang berpendidikan lagi.

Entah apa yang mereka inginkan hingga tega melakukan hal seperti itu kepada temannya sendiri. Dimana Budi Pekerti yang dulu pernah mengajarkan kita rasa kasih sayang kepada sesama?, dimana akhlak dan sikap positif yang pernah diajarkan oleh guru bimbingan konseling kita?.

Jika sudah begini siapa yang harus disalahkan?, siapa yang bertanggung jawab atas prilaku siswa-siswi tersebut?.

STOP BULLYING

Merasa sangat kesal dengan tayangan video tersebut, tentu tidak serta merta saya menyalahkan anak-anak tersebut tanpa adanya bukti yang valid.

Bisa saja apa yang mereka lakukan hanya sebatas drama atau hanya untuk mencapai popularitas semata, tentu semua ini harus ada informasi yang jelas dan menerangkan tentang peristiwa tersebut.

Tak sempat menghabiskan setengah kopi yang tersisa, saya langsung menuju tempat dimana saya biasa menghabiskan waktu untuk mencari informasi penting. Saya mengambil laptop dan mulai mencari informasi tentang peristiwa itu.

Dilansir dari portal berita news.detik.com (18/7/2017) kejadian tersebut melibatkan sembilan orang pelaku bullying siswi SD di Thamrin City, Jakarta Pusat.

Berdasarkan laporan dari Kanit Reskrim Polsek Metro Tanah Abang, memberikan keterangan terhadap peristiwa tersebut dengan mengungkapkan bahwa bullying tersebut berawal saat siswi SD diduga mengajak salah satu pelaku berantem.

“Korban SB mengajak duel salah satunya (pelaku),” begitulah penjelasan dari Kompol Mustakim.

Dan ternyata pelaku dan korban merupakan teman bermain dalam satu daerah yang membentuk grup sejak SD.

Dalam video yang tengah viral di media sosial tersebut tampak sekelompok siswa dan siswi mengenakan seragam sekolah SMP yang sedang membully seorang siswi SD.

Siswi yang mengenakan seragam putih-putih diketahui masih Sekolah Dasar tersebut tampak terpojok dikelilingi oleh siswa dan siswi lainnya.

Seorang siswi yang mengenakan pakaian sekolah putih-biru tiba-tiba menjambak rambut korban hingga terjatuh. Siswa lain juga ikut menjambak dan memukul kepala siswi tersebut.

Bukannya memisahkan, sejumlah siswa-siswi yang menonton malah meminta agar korban mencium tangan dua orang yang tengah mem-bully korban.

Lebih parahnya siswi yang dibully tersebut tidak melawan dan dengan pasrahnya melakukan apa yang disuruh pembully untuk mencium kaki mereka.

Diketahui bahwa Korban adalah SB seorang siswa kelas 6 Sekolah Dasar (SD), sedangkan kedua pelaku diduga siswa kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ini sungguh keterlaluan, tentu kita tidak bisa diam begitu saja melihat generasi muda penerus bangsa kita tumbuh dengan akhlak yang tercela seperti ini.

Apa yang bisa kita lakukan ketika kita menjadi korban?

Langkah apa yang bisa kita perbuat ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu?

Tentu, Diam bukan pilihan!

Jangan diam!, saatnya kita ambil tindakan terhadap kasus bullying yang marak terjadi. Jangan jadikan Bullying hal yang biasa untuk generasi muda kita. Saatnya bertindak mulai dari keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan sekitar kita untuk bersama-sama “Stop Bullying”.

TINDAKAN BULLYING

  • Menyisihkan seseorang dari pergaulan,
  • Menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,
  • Mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,
  • Mengintimidasi atau mengancam korban,
  • Melukai secara fisik,
  • Melakukan pemalakan/ perampasan.

DAMPAK BULLYING

  • Depresi
  • Rendahnya kepercayaan diri / minder
  • Pemalu dan penyendiri
  • Merosotnya prestasi akademik
  • Merasa terisolasi dalam pergaulan
  • Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri

Sebanyak 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah, salah satunya akibat faktor bullying. Angka ini berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurut survei International Center for Research on Women (ICRW).

Jika dibandingkan dengan Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen), angka kasus kekerasan di sekolah, Indonesia lebih tinggi.

Tentu hal ini menjadi perhatian yang serius terhadap kasus bullying yang telah menelan banyak korban. Semua yang ada disini harus terlibat untuk sama-sama mendidik anak-anak kita dan mencegah aksi bullying.

Seluruh komponen masyarkat, sekolah, maupun keluarga harus sama-sama bersinergi dalam mengatasi masalah ini.

MENGATASI BULLYING

Bina relasi antara pelajar, guru dan wali murid

Membina relasi antara ketiga komponen ini menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Dengan adanya relasi yang baik antara wali murid, guru dan pelajar, benih-benih aksi bullying dapat dicegah. Kenapa? Tentu dengan adanya relasi yang baik tersebut, guru dan wali murid dapat mengawasi, menjaga serta berkomunikasi dengan baik kepada para pelajar. Baik itu kepada pelajar yang rawan menjadi korban maupun pelajar yang memiliki benih atau bibit untuk melakukan aksi bullying.

Ajarilah anak-nak untuk melindungi dirinya sendiri sedari dini

Peranan orang tua memang sangat diperlukan dalam segala aktifitas yang dilakukan sang anak. Disini diperlukan lebih serius lagi dalam menanggapi aksi bullying. Ajarilah anak-anak untuk memiliki sikap self defense (pertahanan diri). Sikap disini tentunya bukan dalam hal berkelahi namun lebih kepada menghindarkan diri dari teman maupun kakak kelas (senior) yang berpotensi melancarkan aksi bullying agar dirinya tidak menjadi korban.

Selain itu, hal yang tidak boleh dilupakan adalah, jangan biasakan anak untuk membawa benda-benda mahal ataupun uang yang berlebih ke sekolah, karena dengan membawa uang yang berlebih dan barang mewah ke sekolah, dapat berpotensi menyebabkan anak-anak menjadi korban aksi bullying.

Jangan menganggap remeh aksi bullying, Laporkan!

Hal ini yang perlu diluruskan di kalangan orang tua di Indonesia, karena kebanyakan dari mereka masih menganggap aksi bullying merupakan bagian dari hal lumrah dan atau dianggap sudah menjadi tradisi yang perlu dilakukan oleh senior kepada junior.

Pandangan seperti ini tentu salah besar dan sudah saatnya untuk mengubah persepsi. Ini menjadi semakin penting, karena bisa jadi korban bullying akan menderita dan mengalami trauma berkepanjangan, bahkan mungkin tidak akan hilang sepanjang hidupnya. Dalam kasus yang lebih ekstrim, korban bullying akan mengalami trauma berat, merasa depresi, gila, hingga bunuh diri.

Apabila terdapat seorang anak dihadapkan kondisi seperti itu, ajarikan mereka untuk tidak takut melapor dan memberitahu keluarga atas perilaku yang menimpanya. Saat ini sudah ada lembaga bantuan atas korban dan saksi tindak kriminal termasuk kasus bullying seperti ini, dengan harapan semua yang menjadi korban dan saksi tetap mendapatkan perlindungan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) merupakan lembaga mandiri yang bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan kepada saksi dan/atau korban sesuai tugas dan kewenangan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, berkewajiban menyiapkan, menentukan, dan memberikan informasi yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas, kewenangan, maupun tanggung jawabnya kepada publik.

Sesuai dengan kapasitasnya, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dibentuk dengan tujuan untuk meningkatkan layanan informasi publik di lingkungan LPSK sesuai dengan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Dengan adanya lembaga ini tentu tidak hanya kasus bullying saja yang dapat melaporkan dan meminta perlindungan, kasus lain seperti tindak kekerasan terhadap perempuan, kasus penyelundupan barang-barang ilegal, kasus narkoba atau kriminalitas lainnya dapat juga dilaporkan.

Jangan pernah diam!, karena diam bukan pilihan!

Jangan pernah takut untuk melaporkan setiap kejadian tindak kriminal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain kepada lembaga yang berwenang dalam hal ini adalah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

LPSK akan memberikan layanan perlindungan dan bantuan kepada saksi dan/atau korban dalam setiap tahap proses peradilan pidana, memfasilitasi langkah-langkah pemulihan bagi korban tindak pidana dan melaksanaan perlindungan dan bantuan bagi saksi dan korban.

DIAM BUKAN PILIHAN, LAPORKAN !

Laporkan setiap kejadian mencurigakan atau tindak kriminal yang kita temui. Foto atau rekam kejadian yang ada sebagai barang bukti untuk meminta perlindungan dari LPSK secara gratis yang meliputi perlindungan fisik, bantuan medis, pemenuhan hak prosedural, restitusi, kompensasi atau psikologis. Perlindungan ini diberikan secara gratis tanpa biaya apapun dalam prosesnya maupun pelaksanaanya dalam menegakkan hukum.

Proses pelaporan bisa dilakukan dengan cara datang langsung ke alamat kantor, permohonan via online, melalui kantor pos atau dengan mengirimkan email sesuai persyaratan yang telah ditentukan. Dengan adanya pelaporan dari Anda tentu kepedulian untuk mencegah aksi yang merugikan semua pihak dapat ditanggulangi segera.

Kesimpulannya, kita harus berani dalam mengambil tindakan terhadap pelaku tindak kekerasan atau dalam hal ini adalah bullying yang dirasa merugikan banyak kalangan yang menjadi korban. Tentu tindakan yang tepat untuk meminta bantuan pertolongan dan perlindungan adalah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Kita jangan pernah takut atas ancaman yang akan menimpa kita, selagi kita berani memohon perlindungan terhadap tindak kejahatan yang kita alami kepada petugas yang berwajib, tentu kita akan terselamatkan dan dilindungi oleh lembaga perlindungan tersebut. Ingat #DiamBukanPilihan!

Alamat Kantor LPSK

Website

http://lpsk.go.id

No. Telephone

Follow Social Media Daily Blogger Pro untuk dapatkan informasi selengkapnya!

Sumber Referensi:

https://www.lpsk.go.id 

https://www.lpsk.go.id/assets/uploads/files/d8b0752a62773be323182ee70ff3a799.pdf

http://www.kpai.go.id/berita/indonesia-peringkat-tertinggi-kasus-kekerasan-di-sekolah/

https://news.detik.com/berita/d-3562670/polisi-usut-bully-siswi-smp-ke-siswi-sd-di-thamrin-city

https://erudisi.com/3-cara-mencegah-bullying-kalangan-pelajar/

https://nsholihat.wordpress.com/tag/cara-mengatasi-bullying/

http://freepik.com, infographic: creadhible.com